Minggu, 06 Maret 2016

Mendaki Ke Kawah Ijen

Gambar 1. Asap belerang di kawah Ijen

     Postingan kali ini adalah lanjutan dari serangkaian cerita perjalanan di Banyuwangi, Jawa Timur. Cerita sebelumnya bisa dibaca disini :


     Jam 19.00 wib saya tiba di rumah singgah milik Pak Rahmat. Untuk teman-teman yang baru membaca postingan ini, mungkin belum tahu siapa Pak Rahmat. Pak Rahmat merupakan pemilik dari Rumah singgah dan penyedia jasa transportasi yang berlokasi di depan Stasiun Karangasem, Banyuwangi. Saat itu saya segera beristirahat, setelah seharian berkeliling Taman Nasional Alas Purwo. Di Rumah singgah saya sempat bertemu dengan beberapa rombongan lain. Mereka berencana untuk mendaki kawah ijen malam ini. Rencana yang sama, membuat kami bergabung. Setelah berbincang kami memutuskan untuk berangkat jam 23.00 wib.


     Waktu seakan berjalan lebih cepat. Entahlah mungkin saat itu saya sedang kelelahan. Sejenak tertidur, saya dibangunkan oleh teman saya Nia. Ia menyuruh saya agar segera bersiap-siap karena rombongan akan segera berangkat. Saat itu saya bergegas mengambil air untuk membasuh muka kemudian bergabung dengan rombongan. Jam 23.00, saat itu hujan telah reda.. Biasanya saat hujan turun, asap belerang yang keluar dari Kawah Ijen menjadi lebih pekat, sehingga bisa membahayakan keselamatan pengunjung. Hal ini menjadi pertimbangan apakah pendakian akan dibuka atau ditutup. Untuk memastikan apakah pendakian ke Kawah Ijen bisa dilakukan malam ini, Pak Rahmat menelpon temannya yang berada di Kawah Ijen. Saat itu kami mendapat kabar baik bahwa pendakian ke Kawah Ijen aman dan akan dibuka pada jam 01.00 wib.

   
Gambar 2. Foto sebelum keberangkatan

     23.30 wib kami berangkat dari rumah singgah Pak Rahmat. Jarak rumah singgah menuju Kawah Ijen sekitar 34 Km, jika diakses menggunakan sepeda motor hanya membutuhkan waktu 1-1,5 jam perjalanan. Disepanjang perjalanan ke Kawah Ijen kami hanya menemui 1 SPBU itu pun sudah tutup saat kami melewatinya. Tapi jangan khawatir masih banyak kok toko-toko klontong milik warga yang menjual bahan bakar eceran di sepanjang perjalanan. Kami sempat berhenti untuk mengisi bahan bakar dan membeli bekal untuk persiapan mendaki. Setelah selesai membeli bekal perjalanan pun berlanjut. Jalur pendakian Kawah Ijen adalah Pal Tuding, nah sebelum mencapai Pal Tuding kami melewati desa Licin, unik y namanya. Desa licin ini terletak dilereng Gunung Ijen, mengapa dinamai licin? salah satunya adalah jalan yang terjal dan berkelok saat menuju tempat ini.

     Jam 00.30 wib, kami sampai di Pal Tuding. Udara dingin malam kian menusuk, sambil menunggu pendakian dibuka kami beristirahat dan memesan minuman hangat diwarung. Kawasan Pal Tuding terdapat beberapa sarana yaitu tempat camping ground, mck, penginapan dan warung makan. Ketika melihat sekeliling ternyata sudah banyak yang menunggu pendakian dibuka, sebagian dari mereka bahkan sudah mendirikan tenda dari kemarin. Ramai sekali, tak lama berselang teman satu rombongan saya "Ari" mengantri untuk membeli tiket. Ia tampak berdesak-desakan saat mengantri, setelah beberapa menit akhirnya ia mendapat tiket masuk untuk kami. Jam 01.00 wib, sebelum pendakian dibuka kami berdo'a agar diberi kelancaran dan keselamatan.

     Gunung Ijen ini terdapat 2 rute, yang pertama adalah jalur khusus untuk para penambang belerang (mereka mencari nafkah dengan mengambil belerang dari kawah Gunung Ijen). Sedangkan yang kedua adalah jalur wisatawan. Letaknya bersebelahan dan jalur ini bertemu pada pos penimbangan. Jam 01.30 wib, setelah setengah jam berjalan, kami beristirahat dipinggir jalur pendakian. Mengagumkan saat saya mengamati pemandangan sekitar, terlihat beberapa Gunung yang disinari oleh cahaya rembulan yang terang. Meski tadi sempat hujan, namun yang terlihat saat ini adalah bentang alam yang luar biasa indah. Tak terasa kami cukup lama beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan.

     Jam 02.15 wib kami sampai di pos penimbangan. Tempat ini digunakan untuk penambang belerang menimbang hasil belerang yang didapatkannya dari kawah. Setelah di timbang pengelola kemudian mencatat dan membayar belerang tersebut dengan hitungan kilogram belerang, dalam hal ini pengelolanya adalah PT Candi Ngrimbi. Selain tempat penimbangan belerang, disini juga terdapat warung makan, jadi teman-teman bisa beristirahat sambil memesan makanan atau minuman hangat.

Gambar 3. Pos penimbangan (diambil saat perjalanan pulang)

     Perjalanan kami lanjutkan, setelah melewati pos penimbangan kami melewati pinggiran tebing. Dari sini pertemuan jalur antara penambang dan wisatawan, disini kami sering berpapasan dengan penambang belerang. Mereka memikul belerang dengan kayu/bambu yang masing-masing ujungnya diberi keranjang sebagai wadah belerang. Kalau temen-temen sampai disini berpapasan dengan penambang, sebaiknya mengalah dan memberi jalan ya. Sebab para penambang membawa beban yang berat. Dalam sekali angkut mereka bisa membawa sekitar 40-70kg belerang yang didapat dari kawah.

     Jam 03.00 wib, kami mulai dekat dengan kawah gunung. Asap belerang sudah terlihat, kami menyiapkan masker untuk mengurangi dampak asap belerang yang terhirup. Kami terus melangkah menerjang asap belerang yang ada di jalur pendakian, tak jarang kami terbatuk-batuk karena pengaruh asap belerang tersebut. Saat sampai dibibir kawah kami melihat banyak pengunjung yang sudah sampai, dari sini ternyata blue fire atau si api biru ternyata belum terlihat karena pekatnya asap belerang. Saat itu saya mencoba turun ke kawah untuk menyaksikan api biru, namun sampai ditengah perjalanan saya tidak kuat dengan pekatnya asap belerang, jadi untuk lebih amannya saya memutuskan untuk kembali naik ke atas. Sedikit kecewa karena kami tidak bisa melihat api biru, akhirnya kami memutuskan naik ke bibir kawah yang lebih tinggi dan menunggu Matahari terbit atau Sunrise.

     Satu jam lebih berlalu akhirnya Matahari menampakkan sinarnya. Kami berempat berfoto-foto sejenak dan mengamati danau kawah yang ada di Gunung Ijen ini, namun sayang danau kawah tersebut sebagian besar tertutup asap belerang yang tebal. Saat itu kami menghabiskan waktu beberapa saat hingga akhirnya pada jam 07.00 wib kami turun menuju parkiran motor dan kembali ke rumah singgah (Stasiun Karangasem). Oke sekian dulu catatan perjalanan saya kali ini. Masih ada lanjutan cerita di pantai bangsring (tempat penangkaran hiu), ada apa disana? ditunggu updateannya yah :D.


Gambar 4. Foto bersama di puncak Gunung Ijen







Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger