Senin, 08 September 2014

Mengunjungi Kawasan Wisata Sukuh-Cetho, Karanganyar, Jawa Tengah

 Gambar.1 Gerbang Masuk Kawasan Wisata Sukuh-Cetho

     Mungkin kawasan wisata ini sudah familiar bagi teman-teman pembaca yang berasal dari Solo dan Sekitarnya. Kali ini saya akan bercerita tentang kunjungan saya ditempat wisata ini pada tanggal 30 Juli 2014 lalu. Saya berangkat dengan beberapa sanak saudara saya, saat itu memang sedang libur lebaran, jadi sebagian besar saudara saya berkumpul di kampung halaman, yaitu kota Klaten. Berkumpul dengan sanak saudara pada hari raya Idul Fitri memang sudah menjadi momen tiap tahun bagi kami. Meski harus menempuh jarak yang jauh untuk pulang kampung, tapi momen kebersamaan ini membuat kami tidak memikirkan seberapa jauh yang kami tempuh.

     Beberapa hari setelah lebaran dan selesai mengunjungi sanak saudara untuk silaturahmi dan bermaaf-maafan, salah seorang saudara saya mempunyai rencana untuk berlibur di tempat wisata Sukuh-Cetho yang terletak di kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar (kawasan ini mencakup beberapa desa diantaranya desa Kemuning,Sukuh dan Cetho dll). Sukuh dan Cetho juga merupakan sebuah nama Candi yang terletak lereng Gunung Lawu. Saat ini kawasan tersebut dijadikan obyek wisata di Karanganyar, Jawa Tengah. Selain ada dua candi(Sukuh dan Cetho) di kawasan wisata Sukuh-Cetho juga terdapat dua air terjun yang juga menjadi obyek wisata (Air Terjun Parang Ijo dan Jumog). Kawasan wisata ini terbilang cukup dekat bila diakses dari kota Klaten, dengan sepeda motor membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan . Kebetulan pada hari itu kami semua memang tidak ada rencana berpergian, jadi kami menyetujui rencana dari salah satu saudara saya untuk mengunjungi kawasan wisata Sukuh-Cetho.

     Pagi itu kami berangkat jam 10.00, kami semua berangkat menggunakan sepeda motor. Perjalanan menuju Karanganyar saat itu sedikit macet, mungkin karena libur lebaran menjadi sebab lalu lalang jalan disetiap tujuan tempat wisata menjadi ramai. Karena macet dan menggunakan motor beberapa kali kami harus berhenti karena salah satu dari kami tertinggal dibelakang. Setelah 2 jam mengendarai motor akhirnya kami sampai di kawasan wisata Sukuh-Cetho. Sebelum memasuki kawasan wisata ada retribusi masuk sebesar Rp.3000 untuk tiap pengunjung, retribusi ini hanya untuk masuk kawasan wisata Sukuh-Cetho, sedangkan untuk mengunjungi obyek wisata yang ada kami harus membayarnya lagi ditiap-tiap loket obyek wisata. Saat itu kami menuju Air terjun Parang Ijo terlebih dahulu, kemudian lanjut ke Candi Cetho. Kami hanya mengunjungi dua obyek wisata, karena waktu yang tidak memungkinkan, apabila keempat obyek kami kunjungi. Selain itu kami juga bisa lebih menikmati setiap perjalanan tanpa harus terburu-buru.


Gambar 2. Retribusi masuk kawasan wisata Sukuh-Cetho

     Setelah melewati retribusi kawasan wisata Sukuh-Cetho, kami menuju Air Terjun Parang Ijo. Dalam kawasan ini sudah banyak petunjuk jalan yang memudahkan para pengunjung yang baru pertama kali mengunjungi wisata ini. Jarak antara obyek wisata yang satu dengan yang lain juga cukup dekat, yaitu 15-30 menit perjalanan bila mengendarai motor. Setelah beberapa menit memasuki kawasan wisata Sukuh-Cetho, akhirnya kami sampai di tujuan pertama kami, yaitu Air Terjun Parang Ijo. Untuk masuk kami harus membayar retribusi sebesar Rp.5000. Sebelum melanjutkan cerita, baca dulu catatan sejarah tentang Air Terjun Parang Ijo diparagraf selanjutnya.

Gambar 3. Air Terjun Parang Ijo terletak di lereng Gunung Lawu dan memiliki ketinggian sekitar 50m.  Air terjun ini berjarak tempuh sekitar 20 menit dari komplek wisata candi Cetho.

Catatan Sejarah
     Pada tahun 1942 di sebuah dusun, ada sebuah pohon tua yang sangat besar dan didominasi warna hijau.  Pohon ini dianggap keramat karena tidak bisa ditebang.  Keberadaan pohon itu tidak lama, banjir besar (dikenal dengan nama Baru Klinting oleh masyarakat sekitar) yang melanda daaerah tersebut mampu menumbangkan pohon tersebut dan membawanya bersama derasnya arus.  Akan tetapi pohon tersebut tetap dapat berdiri tegak dan mendapat tempat baru, dimana secara kebetulan menempati diantara tebing (parang), sehingga mempermudah aliran air dari atas tebing menuju lembah melalui batangnya. Aliran air yang terus menerus membuat pohon semakin hijau dengan timbuhnya lumut-lumut. 

     Pada tahun 1982 banjir Baru Klinting kembali melanda daerah ini dan menerjang pohon diatara parang itu.  Hilangnya pohon menyebabkan aliran air yang awalnya melalui batang pohon kini terjun ke bawah tanpa perantara membentuk air terjun yang dikenal dengan nama Parang Ijo yang berarti berwarna hijau diantara 2 tebing. (sumber)
     Sudah tahu kan tentang Air Terjun ini, sekarang lanjut lagi ceritanya. Setelah membayar retribusi kami masuk ketempat wisata, didalam tempat wisata terdapat berbagai fasilitas dan permainan untuk anak kecil. Ada sebuah taman, fliying fox, bahkan ada sebuah kolam renang didalam kawasan wisata ini. Selain itu ada beberapa patung peninggalan yang terdapat di dekat area Air Terjun Parang Ijo (patung Dewi Sarasati dan Lingga Yoni). Saat itu sudah banyak pengunjung yang datang, suasana cukup ramai, ada seorang anak kecil yang berteriak ketika bermain flying fox, ada seorang wanita cantik yang sedang berfoto-foto ria di bawah air terjun, serta bapak-bapak yang menikmati secangkir kopi panas di warung dekat air terjun. Sedangkan kami berkeliling area wisata mulai dari Air Terjun, Taman, Patung-Patung dan langkah kami berhenti di sebuah warung yang berada didekat kolam renang, kami duduk santai sambil menunggu secangkir kopi panas yang sudah kami pesan.
      
Gambar 4. Foto ditengah keramaian

     Setelah beberapa jam berkeliling dan menikmati kopi panas di warung, kami mulai melanjukkan tujuan berikutnya yaitu Candi Cetho. Candi Ceto (ejaan bahasa Jawa latin: cethå) merupakan candi bercorak agama Hindu yang diduga kuat dibangun pada masa-masa akhir era Majapahit (abad ke-15 Masehi). Lokasi candi berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut, dan secara administratif berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar (baca selengkapnya). Saat itu jam 14.30 kami mulai menuju Candi Cetho, lokasi Candi Cetho titak terlalu jauh, diperjalanan kami melewati kebun Teh Kemuning. Setengah jam berlalu kami tiba di Candi Cetho jam 15.00. Untuk masuk kawasan Candi kami membayar 3000 tiap orang. Saat itu cuaca sedikit mendung, kami pun sedikit terburu-buru karena cuaca ini. Model bangunan Candi Cetho merupakan punden berundak, dibeberapa pundennya terdapat arca dan bangunan yang menyerupai rumah-rumah kecil.


Gambar 5. Salah satu arca yang terdapat di Candi Cetho

 
Gambar 6. Komplek punden berundak Candi Cetho


Gambar 7. Narsis dulu

     Setelah mengelilingi komplek Candi, kami pun mulai meninggalkan lokasi. Karena cuaca masih belum gelap, kami memutuskan untuk mengujungi Kebun Teh Kemuning untuk menimati sate kelinci. Yah sate kelinci memang makanan khas di tempat-tempat pegunungan seperti Kabupaten Karanganyar ini. Kami mulai meninggalkan Candi Cetho pada jam 16.15. 15 menit perjalanan kami sampai di Kebun Teh Kemuning, kami memarkirkan kendaraan kami di dekat warung yang menjual sate kelinci. Di sekitar Kebun Teh Kemuning terdapat banyak warung yang menjual sate kelinci atau makanan lain, serta menyediakan tempat untuk istirahat dan menikmati hijaunya Kebun Teh di lereng Gunung Lawu yang indah. Setelah memesan dan menikmati sate kelinci, kami berjalan-jalan sejenak di area perkebunan. Tak lupa kami berfoto-foto ria untuk mengabadikan gambar disini.


Gambar 8. Foto bersama

     Setelah lama berfoto-foto di Kebun Teh Kemuning, matahari pun mulai tenggelam. Kami pun segera bergegas untuk kembali pulang ke rumah. Cukup menyenangkan perjalan kali ini, selain tempat yang indah, kebersamaan dengan saudara-saudara yang lama tidak berjumpa menjadi sebuah momen tersendiri. Sekian cerita dari saya terimakasih sudah membaca :D.


Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger