Minggu, 20 Juli 2014

Merapi via Selo, Pengalaman Mendaki Di Salah Satu Gunung Berapi Teraktif Didunia

Gambar 1. Gunung Merapi

     Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Dunia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.

     Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak di bawah 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat pemukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini.Sumber
     
     Ini adalah kesekian kalinya saya berbagi cerita, semoga gak pada bosen yah dengan cerita yang saya tulis. Kali ini saya banyak mempunyai waktu luang, karena alhamdulillah setelah melewati minggu-minggu penuh dengan materi Skripsi, akhirnya selesai juga. Hari ini, esok, mungkin lusa sepertinya akan saya habiskan dengan menunggu pengumuman jadwal sidang. Untuk mengisi waktu luang, kali ini saya akan bercerita tentang perjalanan saya saat mendaki di Gunung Merapi.

     Siang itu Sabtu, 9 November 2013 saya mendapat kabar bahwa teman saya sedang perjalanan turun dari Gunung Merbabu via Selo (Boyolali). Ini adalah rencana teman saya yang saat itu berencana mendaki Gunung Merbabu via Wekas (Magelang) kemudian melanjutkan turun via Selo, kemudian dilanjutkan ke Gunung Merapi. Pada saat itu saya sedang di kampung halaman yaitu kota Klaten, sedangkan teman saya berangkat dari Semarang. Saya memutuskan hanya menyusul dia saat melakukan pendakian kedua yaitu Gunung merapi saja. Saat itu saya hanya berangkat sendiri dari kota Klaten, namun ada dua orang teman saya yang menyusul dari Semarang. Seperti halnya dengan saya, mungkin karena kesibukan mereka juga, mereka hanya menyusul saat pendakian di Gunung Merapi. Sebelum berangkat kami berencana untuk berkumpul di New Selo, ini tempat untuk basecamp pendakian Gunung Merapi. Disana terdapat tempat parkir, penjual makanan serta menyediakan tempat istirahat untuk para pendaki. Malam itu jam menunjukan pukul 8, saya berangkat dari Klaten.

     Untuk sampai di Selo, saya tidak membutuhkan waktu yang lama yakni hanya satu setengah jam perjalanan. Saat itu saya baru pertama kali ke Selo, sehingga saya harus sering berhenti untuk bertanya. Sampai saat saya bertemu dengan jalanan yang sepi saya sedikit bingung, kerena disana sangat petang, jalanan berkelok dan menanjak, sehingga jarang sekali ada orang yang bisa ditanyai. Hingga ada beberapa orang yang menyalip saya dengan motornya, rombongan itu membawa Carrier (tas besar yang biasa digunakan untuk mendaki gunung), saya berfikir tujuan mereka mungkin sama dengan tujuan saya. Tak lama mengikuti mereka benar saja akhirnya saya sampai di basecamp pendakian Gunung Merapi.

     Sampai di basecamp saya segera memarkirkan motor dan membayar retribusi masuk. Setelah itu saya mencoba menghubungi teman-teman yang lain, namun disini handphone saya susah mendapatkan sinyal. Disini saya hanya mendapatkan sms terakhir dari teman saya bahwa mereka menunggu di New Selo, namun saya sedikit bingung karena dari tadi saya menengok kanan-kiri tidak ada satupun orang yang saya kenal. Karena tidak ingin terus-terusan bingung saya pun bertanya kepada salah satu rombongan pendaki yang berada dibasecamp, kebingungan saya pun akhirnya mendapat jawaban. Tempat pendaftaran retribusi masuk dan parkir motor ternyata terpisah dengan New Selo dimana tempat teman saya menunggu, saya harus berjalan beberapa ratus meter keatas untuk sampai di New Selo.

Gambar 2. New Selo pada siang hari

     Akhirnya saya bertemu teman-teman yang lain setelah sempat bertanya dibasecamp. Total dari kami adalah 7 orang termasuk saya, 4 orang yang sudah turun dari Gunung merbabu, sedangkan 2 orang menyusul dari Semarang. Disini kami berkumpul dan memesan kopi untuk sekedar menghangatkan diri dari udara malam pegunungan. Malam itu suasana di New Selo sangat ramai, karena selain besok adalah hari libur, malam itu bertepatan juga dengan acara pendakian masal. Mereka sama seperti kami berkumpul di New Selo, sebelum mendaki mereka brefing terlebih dahulu kemudian membentuk barisan layaknya orang yang sedang melaksanakan upacara, hal ini menarik perhatian kami yang sedang asik minum kopi. Setelah beberapa saat rombongan itu dibagi menjadi beberapa tim, kemudian mereka mulai melakukan perjalanan.

      Setelah puas menikmati kopi dan suasana malam di New Selo kami mulai mendaki pada jam 11 malam. Jalur pendakian di Gunung Merapi terasa terjal dari pertama kami berjalan. Untuk sampai pos 1 pertama kami melewati ladang penduduk sekitar kemudian masuk hutan pinus. Kurang lebih 45menit kami berjalan akhirnya kami sampai di pos 1. Di pos 1 hanya ada sebuah bangunan seperti gerbang/gapura, disini kami tidak melihat tempat yang datar, sehingga kami harus beristirahat ditempat yang sedikit terjal. Disini kami melihat kerlap-kerlip lampu pendaki yang berada di sebrang gunung, disini kami memang dapat melihat pendaki yang sedang berjalan di jalur pendakian Gunung Merbabu. Setelah cukup beristirhat kami pun melanjutkan perjalanan.

     Menuju pos 2 sedikit demi sedikit, kami pun melewati batas vegetasi ( Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu ekosistem). Batas Vegetasi merupakan batas tempat dimana terdapat tumbuhan dan tempat dimana tidak ada tumbuhan yang hidup, hal ini disebabkan karena erupsi yang membuat tumbuhan mati, sehingga yang tersisa hanyalah bebatuan. Satu jam berjalan dari pos 1 akhirnya kami sampai di pos 2, disini kami mendirikan camp disini. Sebenarnya kami berencana untuk mendirikan camp dipasar bubrah, namun karena salah satu teman kami lelah, maka kami tidak memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan dan memilih untuk istirahat.

Gambar 3. Narsis di pos 2

     Jam 5 pagi saya terbangun, namun angin bertiup kencang. Pagi itu kami menunda perjalanan kepuncak hingga angin yang bertiup kencang sedikit mereda. Di Gunung Merapi memang sering terjadi badai, ditambah lagi area yang tidak memiliki vegetasi, sehingga angin yang bertiup langsung menerpa tenda kami. Sembari menunggu angin mereda, kami membuat kopi dan mie instan untuk sarapan pagi Kami terpaksa memasak didalam tenda, karena apabila kami memasak diluar tenda, api pada kompor akan langsung mati karena tertiup angin.

   Jam 7.30 pagi kami mulai melanjutkan perjalanan setelah cukup lama menunggu angin yang bertiup kencang sedikit mereda. Setengah jam lebih berjalan, kami sampai di pasar bubrah kemudian beristirahat. Disini kami banyak menemui tenda-tenda yang didirikan oleh para pendaki, pasar bubrah merupakan pos terakhir sebelum mencapai puncak Gunung. Disini banyak tedapat bidang datar, sehingga banyak pendaki yang mendirikan tenda disini. Meski banyak bidang datar namun bebatuan yang sangat banyak sebenarnya cukup menganggu, apabila mendirikan tenda, karakteristik tanah yang keras juga menyulitkan pendaki untuk memasang pasak tenda.

Gambar 4. Menuju puncak

Gambar 5. Pasar bubrah

     Setelah cukup lama beristirahat kami melanjutkan perjalanan, sebelum sampai puncak kami melewati track berpasir, hal ini terasa berat karena sebagian dari kami hanya menggunakan sandal. Track berpasir sangatlah menguras tenaga, selain langkah yang berat, pijakan kami juga sering merosot kebawah. Satu jam berjalan dari pasar bubrah, akhirnya pada jam 9.30 pagi kami sampai di puncak Gunung Merapi, setelah sebelumnya melewati track berpasir.

 Gambar 6. Sampai puncak

 Gambar 7. Menuju puncak yang sebelumnya bernama puncak garuda

 Gambar 8. Foto bersama

     Karena keterbatasan tempat, kami pun tidak berlama-lama dipuncak gunung, tempat yang sempit mengharuskan kami bergantian dengan pendaki lain yang juga ingin berada di puncak. Puncak Gunung Merapi merupakan bibir kawah yang curam, jadi disini kami juga bisa melihat aktifitas kawah gunung berapi yang masih aktif, namun kami berhati-hati karena bau belerang dari kawah bisa saja meracuni pernafasan kami. Setelah puas mengabadikan gambar kami pun segera turun dari puncak Gunung Merapi. Sekian cerita dari saya, terimakasih sudah membaca.

     
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger